Home Lifestyle Bagaimana E-commerce Bisa Mengalahkan Toko Offline dan Menguasai Pasar Retail Dunia?

Bagaimana E-commerce Bisa Mengalahkan Toko Offline dan Menguasai Pasar Retail Dunia?

1301
SHARE

Bisa dikatakan bahwa salah satu tugas perusahaan modal ventura adalah memprediksi masa depan. Namun, melakukan prediksi dengan melakukan iterasi dari kondisi saat ini bisa membuatmu terjebak dalam pola pikir linear, serta sulit membayangkan perubahan drastis yang mungkin bisa terjadi.

Karena itu saya pun coba melakukan sebuah eksperimen. Saya membayangkan kondisi ekstrem pada masa depan, lalu berpikir mundur ke belakang untuk melihat hambatan apa yang bisa disingkirkan guna mencapai masa depan seperti dibayangkan.

Apa yang harus terjadi agar bisnis e-commerce bisa menguasai delapan puluh persen transaksi retail? Menurut saya, ada dua hal yang diperlukan agar mimpi tersebut bisa menjadi kenyataan:

  • Konsumen merasakan pengalaman berbelanja yang lebih baik ketika berbelanja online.
  • Pedagang mendapatkan keuntungan yang lebih besar ketika menjual barang secara online.

Kedua hal tersebut merupakan dua hal yang saling bertentangan. Namun saya pikir akan tiba masa di mana keduanya mencapai titik ekuilibrium, sehingga menciptakan perubahan yang besar dan sistematis.

Jadi, apa yang memisahkan kedua hal tersebut? Inovasi apa yang dibutuhkan agar untuk menjembataninya?

Pengalaman berbelanja yang lebih baik

Dengan mlihat pengalaman berbelanja online saat ini, masih ada beberapa hal signifikan yang membuat pengalaman berbelanja kurang nyaman dibanding saat melakukannya secara offline.

Penemuan produk

Ada dua cara konsumen menemukan produk saat ini:

  • Tidak sengaja: Konsumen menemukan sebuah produk yang ingin dibeli, meski awalnya tidak merasa butuh.
  • Sengaja: Konsumen tahu apa yang ingin dibeli dalam sebuah kategori produk, kemudian berhasil menemukan produk tersebut.

Menurut saya, kedua cara penemuan produk tersebut masih cukup mengecewakan dengan teknologi internet dan user experience yang ada saat ini.

Untuk penemuan produk yang tidak sengaja, “lingkungan” di mana konsumen menghabiskan waktu harus dibuat lebih menyenangkan dan relevan. E-commerce harus memberikan pengalaman mencari produk yang menghibur dan sesuai minat konsumen, namun di sisi lain juga bisa memberi kejutan yang menyenangkan.

Untuk penemuan produk secara sengaja, saya rasa kuncinya ada pada relevansi dan efisiensi. Menampilkan produk yang relevan, bisa menjadi faktor utama yang membuat proses berbelanja menjadi lebih efisien. Inti dari aktivitas ini adalah bagaimana e-commerce bisa memenuhi kebutuhan fisik dan emosi yang memang diinginkan oleh pengguna.

Kita juga butuh kreativitas dan inovasi demi membuat aktivitas menemukan
produk jadi lebih menyenangkan.

Demi meningkatkan relevansi, kita harus berusaha lebih baik dalam memahami minat para pengguna dan produk seperti apa yang mereka butuhkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan kode dan atribusi yang sesuai kepada setiap produk. Perusahaan besar seperti Amazon, Netflix, dan Spotify telah memulai inovasi ini, namun baru menyentuh permukaannya saja.

Kita juga butuh kreativitas dan inovasi demi membuat aktivitas menemukan produk jadi lebih menyenangkan. Harus diakui, menelusuri halaman demi halaman yang hanya berisi gambar produk bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Mungkin kita harus meniru keseruan yang dirasakan konsumen saat berbelanja di pasar loak dengan metode yang menyenangkan, seperti dengan Virtual Reality (VR) atau inovasi-inovasi lain di bidang UX. Mungkin kita juga bisa memanfaatkan jenis konten yang menghibur, seperti reality show atau permainan.

Atau mungkin kita harus mendesain ulang pengalaman pengguna ketika berbelanja offline, dan mengintegrasikannya di aktivitas berbelanja online.

Fashion Store | Photo
Ilustrasi toko baju offline

Mencoba produk

Salah satu kelemahan e-commerce adalah kamu tidak bisa menyentuh, merasakan, dan mencoba barang sebelum membeli.

Secara teori, ada dua cara untuk mengatasi masalah ini:

  • Pertama, menggunakan teknologi untuk menduplikasi bentuk dan tekstur dari sebuah produk ke lokasi lain. Menurut saya, hal ini bisa dilakukan secara spesifik untuk kategori produk tertentu. Contohnya untuk bidang properti atau perumahan, mereka bisa menggunakan teknologi VR dan gambar tiga dimensi. Sedangkan untuk dekorasi rumah, mereka bisa menggunakan teknologi augmented reality (AR).
  • Kedua, memungkinkan calon pembeli untuk mencoba produk dengan cara mengirimkannya terlebih dahulu kepada pembeli. Hal tersebut kini sudah umum dilakukan beberapa e-commerce, yang menawarkan layanan mencoba barang langsung di rumah, serta gratis pengiriman kembali.

Namun untuk melakukan hal ini, e-commerce harus menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih baik, sekaligus lebih murah. Aktivitas ini pun harus berjalan dengan sangat efisien, agar tidak menambah jumlah persediaan barang.

Laba yang lebih besar

Perbedaan utama antara berjualan secara online dan offline adalah keberadaan tambahan biaya yang cukup besar dalam hal logistik dan pergudangan untuk transaksi online. Biaya tersebut muncul karena e-commerce berusaha keras mengantar produk secara cepat dan murah ke lokasi pembeli, sehingga pangsa pasar e-commerce saat ini mandek di kisaran sepuluh persen dari transaksi retail.

Selain itu, ada juga biaya pemasaran yang harus dikeluarkan untuk menjangkau konsumen dan membangun brand awareness. Sangat sulit untuk membayangkan bisnis e-commerce menguasai delapan puluh persen pangsa pasar bisnis retail bila semua penjual menggunakan strategi pemasaran serupa pada saat ini.

Logistik

Meski e-commerce menawarkan kenyamanan berbelanja bagi pengguna, namun konsumen akan makin menginginkan barang belanjaannya dikirim secara cepat. Karena itu, agar bisa tetap memberi pengalaman berbelanja yang serupa dengan penjualan offline dan tetap mendapat keuntungan besar, kita membutuhkan layanan pengiriman barang yang lebih cepat dan lebih murah dari yang ada sekarang.

Dari seluruh rantai pengiriman logistik, yang paling menantang adalah sisi akhir (last mile). Mereka harus mengantarkan barang ke lokasi akhir yang beragam, pengaturan rute rumit dengan banyak kemungkinan hambatan yang bisa terjadi selama perjalanan, serta biaya pengiriman hingga ke rumah yang berbiaya tinggi di mana para kurir harus mencari lokasi rumah konsumen.

Demi membuat proses ini menjadi lebih murah, penggunaan kendaraan tanpa pengemudi dengan pengelolaan rute yang lebih pintar, kemungkinan besar akan menjadi salah satu solusi.

Pendekatan lain bisa dilakukan dengan mengubah total pola pengiriman logistik yang ada sekarang. Contohnya adalah dengan mengumpulkan semua barang dalam satu kontainer yang akan dikirimkan ke suatu perumahan, lalu mengirimnya secara bersamaan.

Tumpukan Kontainer | Photo
Ilustrasi kontainer yang lazim digunakan dalam rantai logistik

Pergudangan

Pergudangan yang dimaksud adalah aktivitas mencocokkan pesanan konsumen dengan produk tertentu yang ada di gudang, serta aktivitas-aktivitas lain yang terjadi di dalam gudang. Meski telah ada perkembangan pesat dalam teknologi automasi gudang, masih banyak proses yang membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah banyak (menyebabkan biaya untuk gaji karyawan yang tinggi).

Untuk membuat aktivitas pergudangan menjadi lebih murah, kita butuh meningkatkan kemampuan lengan robotik dan teknologi pengenalan objek. Namun keduanya merupakan sesuatu yang sulit, karena beragamnya jenis produk yang akan mereka tangani. Biaya untuk menerapkan teknologi tersebut pun harus lebih murah agar semakin banyak perusahaan yang bisa menggunakannya.

Pemasaran

Awalnya, kita mengira bahwa menjangkau pengguna secara online bisa lebih murah bila dibandingkan menyewa tempat dan merekrut staf untuk membuat toko offline di lokasi tertentu. Namun dengan semakin banyaknya pemain e-commerce yang muncul dan berkompetisi untuk menjangkau pengguna yang sama, hal yang terjadi justru sebaliknya.

Bagaimana kita bisa mengubah paradigma ini? Saya rasa salah satu cara untuk menghindar dari kompetisi di suatu periode waktu sama tersebut adalah dengan menciptakan momen-momen baru yang menyenangkan bagi pengguna, baik secara online maupun offline.

Para penjual di dunia maya juga bisa memikirkan cara mengintegrasikan produk mereka di dunia nyata, seperti dengan membuat showroom kecil atau memasang iklan yang relevan namun bisa menjangkau banyak orang. Aktivitas seperti ini bisa membuat proses penemuan barang dan pemasaran menjadi lebih efisien.


Apakah saya percaya bahwa e-commerce bisa menguasai delapan puluh persen pasar retail di masa depan? Ya, saya percaya. Namun …

  • Hal tersebut akan terjadi dalam jangka waktu yang lama, 20-30 tahun ke depan, atau lebih lama lagi.
  • Hal tersebut hanya akan terjadi apabila kita bisa menyelesaikan masalah kenyamanan pengguna terlebih dahulu.

Artikel Asli

Comments

comments