Home Tips & Tricks Generasi Millenial dan Cara Memahami Mereka.

Generasi Millenial dan Cara Memahami Mereka.

3267
SHARE
Net TV memiliki lebih dari 70% karyawan generasi Millenial

Tulisan ini adalah hasil ringkasan dari event HR Thursday Talk persembahan karir.com yang berlangsung hari Kamis, 2 July 2015.  Berawal dari kegelisahan banyak klien tentang bagaimana cara menghadapi generasi Millenial atau generasi Y.  Event ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para HR Professional di Jakarta dan dihadiri lebih dari 100 HR professionals.  Ternyata, friksi atau gesekan antara Generasi Millenial dengan pendahulu mereka, Generasi X lebih nyata daripada yang saya bayangkan.  Pembicara HR Thursday Talk kali ini adalah Hery Kustanto, HR Head dari Net TV yang memiliki lebih dari 70% karyawan generasi Millenial.

Saya sendiri adalah generasi X, lahir di antara tahun 1965 – 1980.  Kita yang besar di Jakarta mengenal catatan si Boy dengan BMW seri 3-nya, Lintas Melawai, dan Drive-in Ancol.  Sebagian besar senang dengan Bon Jovi dan sekarang mulai heboh karena sebentar lagi akan manggung di Jakarta. Lebih tau sepatu roda daripada inline skate.  Pernah merasakan ketegangan antara Amerika dan Rusia.  Tau bahwa dulu sempat ada Jerman Barat dan Timur.  Sempet nonton Unyil sebagai hiburan. Dan lain-lain.   Kami adalah pemikir-pemikir independen yang tidak menyukai segala bentuk otoritas.  Ingat, generasi kami juga yang menggulingkan Orde Baru di Republik ini.  Kami tidak suka meeting berlama-lama dalam suasana formal.   Nah, banyak dari Generasi X kini menjadi pemimpin di perusahaan, sementara yang dipimpin adalah Generasi Millenial alias Generasi Y.

Siapakah mereka?  Mereka lahir antara tahun 1980 – 1995.  Udah gak pernah denger perang dingin alias Cold War.  KGB?  Khong Guan Biscuit, ya?   Lebih tidak formal daripada generasi X.  Menuntut fleksibilitas dalam bekerja.  Mempertanyakan semua keputusan.  Kritis banget.   Mereka juga lebih canggih berhadapan dengan teknologi daripada generasi sebelumnya,  banyak dipengaruhi oleh kultur musik dan pop, dan sadar fashion.

Dalam paparan-nya, Hery Kustanto menjabarkan karakter Generasi Millenial yang menjadi populasi dominan di NET. TV sebagai berikut :

  1. Generasi yang sangat melek teknologi alias tech savvy.
  2. Memiliki ambisi yang tinggi, maunya karir mereka bisa melesat cepat.
  3. Haus akan perhatian atau attention – Craving.
  4. Memilih ruang privasi tidak bersekat.
  5. Pencitraan kadang tidak menggambarkan dirinya yang sebenarnya.
  6. Mampu melakukan multi tasking dan berpikiran luas.
  7. Pintar cari uang walau tidak bekerja kantoran.
  8. Ketidakstabilan dalam loyalitas.
  9. Tidak menyukai birokrasi yang rumit.
  10. Genarasi Work Hard, Party Hard.

Dalam diskusi hangat ngabuburit itu, kami juga sepakat menambah beberapa karakter lain dari generasi Millenial :

  1. Mereka adalah generasi yang kritis, mempertanyakan segala hal setiap saat. Berani men-challenge atasan untuk keputusan apa pun.
  2. Generasi yang sadar fashion dan dipengaruhi oleh kultur pop dan musik.

Memahami penggambaran karakter generasi Millenial di atas ini akan sangat membantu bagaimana kita menghadapi mereka.

Sekilas kalau kita melihat paparan Hery Kustanto, sebagai seorang HR Professional akan terlintas tantangan paling berat, “Bagaimana saya bisa mendisiplinkan generasi Millenial ini?”  Bagaimana tidak?  Kalau melihat karakter mereka, saya sebagai  turunan Jawa akan melabel mereka sebagai generasi mbeling.

“Saya sering mengatakan ke mereka, gak heran, kamu ini disebut generasi Y.  Sukanya nanya ini itu terus.  Why this, why that.  Inginnya bisa segera jadi manager.  Emangnya perusahaannya mbahmu?” canda Hery dalam paparannya.

Masalah kedisiplinan memang menjadi issue yang sering dilontarkan dalam diskusi bersama dalam HR Thursday Talk.  Bahkan, dalam sesi dengan media issue disiplin kembali mencuat dan menjadi obrolan panas yang serius, karena awak media sangat antusias kepada topik ini.

Hebatnya, di NET. TV, mereka berhasil menerapkan kedisipilan yang tinggi kepada para awak Millenial mereka.  Padahal di satu sisi, mereka juga dituntut untuk bisa atau menjadi pribadi yang super kreatif.  Saya terus terang sulit membayangkan bagaimana caranya bisa menyatukan dua kepribadian ini?  Karena keduanya sangat bertolak belakang.  Anak-anak yang kreatif umumnya jauh dari disipilin, pun sebaliknya mereka yang sangat disiplin dan patuh peraturan agak sulit menjadi kreatif.

Lantas bagaimana caranya?

Beberapa kesimpulan dari diskusi sore itu adalah sebagai berikut :

Menghadirkan Suasana Kerja yang Nyaman

Sudah bukan rahasia, karyawan menuntut suasana kerja yang nyaman, dan generasi Millenial tentu saja termasuk kelompok yang menuntut hal yang sama, bahkan lebih.  Di NET. TV, upaya ini dilakukan melaui desain interior kantor yang lebih menyerupai sebuah café ketimbang tempat bekerja.

“Bahkan desain kantor kami memenangkan penghargaan.” Jelas Hery.

Area outdoor untuk melepas stress juga disediakan oleh NET. TV.   Di Bukalapak.com selain makan siang dan sore prasmanan gratis, karyawan juga diperbolehkan bekerja dari rumah dan ada flexible working hour.   Terus terang, kebijakan bekerja dari rumah ini menghadirkan diskusi berlanjut, karena tidak semua perusahaan tentunya dapat menerapkan hal yang sama.

Friksi dapat terjadi ketika seorang head yang berasal dari generasi X bertemu dengan team mereka dari generasi Millenial yang sudah kadung nyaman dengan pilihan bekerja dari rumah.  Generasi X akan mencap mereka sebagai slackers alias pemalas.

Disinilah peranan HR sebagai Talent Development kembali diuji.   Kesimpulan dari pembahasan adalah, bagaimana menghadirkan suasana kerja yang nyaman bagi kedua generasi tersebut.  Jangan kebablasan.

Semetara di NET. TV, jam kerja pun bisa dibilang tidak ada.  “Karena kami ini media TV.  Jam kerja tidak standard. “  kata Hery.  Namun, bukan berarti karyawan bisa masuk dan pulang kantor seenak mereka.  “Jam kerja di media TV sangat tergantung dari program apa yang mereka kerjakan.” Jelas Hery lagi.  Mereka yang baru pertama kali berkarir di media TV biasanya akan shock.

Keterlibatan CEO sebagai Sosok Inspiratif

NET. TV juga menilai keterlibatan dari seorang CEO bagi generasi Millenial sebagai salah satu kunci untuk mendisplinkan mereka.   CEO Net. TV dipandang sangat terlibat dan dekat dengan generasi Millenial.  Ia selalu hadir dalam pertemuan formal dan informal.

“CEO kita ini sampai banyak diidolakan oleh para karyawan baru dari generasi Millenial.” Ujar Hery.

Saya jadi teringat salah satu buku berjudul The Nordstrom Way tentang kisah sukses Nordstrom, retailer besar dari Amerika.  Berbeda dengan Wal Mart, Nordstrom lebih melayani konsumen premium.  Pendekatan mereka sangat personal.  Untuk bisa menularkan value tersebut kepada karyawan, pimpinan tertinggi dari Nordstrom pun sangat personal terhadap karyawan mereka.  Dalam proses induction, sang CEO tidak segan-segan bertemu dengan para karyawan secara langsung dan memberikan sambutan serta insights kepada mereka.  Dalam buku tersebut, bahkan digambarkan bagaimana seorang Blake Nordstrom selaku pimpinan tertinggi mengatakan kepada para karyawan baru, “Gunakan uang saya bila perlu supaya kamu bisa lebih dekat dengan customer.”

Update secara Berkala

Selain sosok seorang CEO yang harus dekat, generasi Millenial yang kritis juga akan lebih involved dan engaged jika pihak manajemen melakukan update secara berkala terhadap kondisi dan performa dari perusahaan.

“Mereka itu selalu ingin tau, perusahaan kita ini gimana sih?  Sudah sampai mana sih?  Untung gak sih?” jelas Hery.

Pendekatan ini juga diamini oleh beberapa perusahaan lain.  Di EMTEK group, para karyawan mengenal istilah Town Hall, dimana pihak manajemen yang diwakili oleh CEO akan memberikan update terhadap performance dari perusahaan .  Dengan proses update ini, karyawan akan memiliki sense of ownership yang tinggi dan tentunya akan semakin terpacu untuk terus berkarya.

Selalu Gunakan Pendekatan Kreatif

Ini adalah upaya yang menurut saya, pihak NET. TV sangat sukses dalam mengaplikasikannya.  Mulai dari memberikan seragam kepada para karyawan hingga pelatihan militer kepada karyawan baru.

“Tapi ya desain seragamnya ya harus keren!” sergah Hery. “Kalau gak, ya mereka gak mau pakai.” Jelasnya lagi.

Terlihat memang pihak NET.TV cukup niat dalam mengaplikasikan ini. Tampilan team NET. TV bak seorang prajurit yang siap tempur.  Gak tanggung-tanggung, bootsnya pun bermerek 5.11.  Merek favorit mereka yang gemar bermain airsoft gun.

Pelatihan militer pun mereka berikan kepada karyawan baru sebagai bentuk penegakan disiplin.  Disini, para karyawan baru akan menghabiskan beberapa hari bersama tim dari kopassus atau marinir.

“Awalnya mereka protes, kenapa saya harus ikutan latihan militer?  Tapi setelah mengikuti, mereka sampai nangis-nangis ketika harus berpisah dengan pelatih mereka di kesatuan.”  Cerita Hery.

Ia pun kerap mendapatkan telpon dari orang tua para generasi Millenial ini yang mengucapkan banyak terimakasih karena anak-anak mereka kini menjadi lebih disiplin.

Review Performance yang tidak Kaku

Untuk mengakomodir sifat generasi Millenial yang ambisius dan ingin semua serba cepat, Net. TV pun tidak kaku dalam menerapkan review performance kerja.   Review yang umumnya dilakukan setahun sekali, dilakukan setahun 2 kali.   Tidak heran, seorang karyawan yang bergabung di bulan Maret 2013, dalam dua tahun bisa mengalami kenaikan posisi mulai dari Junior Reporter, Reporter, Senior Reporter, dan kini sudah menduduki jabatan sebagai Junior Producer.

Demikian beberapa kunci pembahasan bagaimana memahami generasi Millenial dan bagaimana bisa mendapatkan atau mengidentifikasi mereka-mereka yang akan menjadi pemimpin penerus perusahaan.  Semoga paparan di atas dapat membantu Anda.  Jika Anda menginginkan lebih banyak insights mengenai HR, silahkan menghubungi Business Consultant  dari Karir.com atau email ke cs@karir.com

Terimakasih kepada Hery Kustanto dari NET. TV yang telah bersedia memberikan sharing yang sangat berharga dalam HR Thursday Talk, persembahan karir.com bagi dunia HR di Indonesia.

Salam karir,

Dino Martin

Comments

comments